Kita bisa tumbuh menjadi gajah. Besar, gagah, kuat, berwibawa. Tapi, kita juga bisa tumbuh menjadi semut. Kecil, ngumpet, lemah tak berdaya.
Bagaimana bisa seseorang tumbuh menjadi gajah atau semut? Masak iya ada orang yang berpeluang untuk menjadi kuat dan besar di satu sisi, namun di sisi lain juga berpotensi untuk menjadi lemah dan kecil?
Ya, setiap saat kita bisa berada dalam posisi begitu.
Pembedaan seseorang bisa menjadi gajah atau semut hanya terletak pada “seberapa mampu ia memikul masalah dalam hidupnya”.
Jika ia hanya berani menghadapi masalah sebesar semut, maka ia akan menjadi semut. Jika ia gigih menghadapi masalah sebesar gajah, maka ia akan menjadi gajah. Selalu begitu.
Ukuran kekuatan seseorang bukanlah terletak pada kemampuannya menyelesaikan sebuah masalah, tetapi pada kemampuannya menuntaskan masalah besar. Ini yang menjadi poin plus seseorang, yang menyebabkannya berbeda dengan seseorang lainnya.
Dimana letak keistimewaan personalitimu hanya karena kamu telah berhasil bekerja di sebuah kantor, toh nyatanya begitu berjubel orang yang bisa mendapatkan pekerjaan yang sama, hasil yang sama, dan level hidup yang sama.
Tantangan atau masalah yang biasa saja, yang berhasil kamu hadapi, takkan pernah melontarkanmu ke level tinggi dari segi apa pun. Tetapi kamu baru akan benar-benar terdorong ke level tinggi, istimewa, dan khas jika kamu berhasil menghadapi sebuah tantangan atau masalah yang tidak biasa.
“Tidak biasa”, sesuatu yang besar, tentu dalam ukuran masing-masing.
Maka jika kamu ingin menjadi besar, gajah, maka kamu kudu dan wajib dan mutlak hukumnya untuk menempuh masalah yang juga besar, dan gajah. Inilah yang kemudian akan memberikan pembedaan mendasar antara kamu dengan orang lain.
Ahahhh, tentu saja, ada harga yang harus dibayar di situ. Harga yang berupa soal keringat, air mata, kesabaran, ketekunan, hingga kebesaran niat. Menjadi seeekor gajah, jelas kamu harus berkeringat dan gigih untuk memikul bebannya yang besar dan besar. Jika kamu enggan berkeringat dan tak mau gigih, maka kamu takkan pernah menjadi gajah. Kamu akan tetap menjadi dirimu yang semut, kecil, penakut, dan lemah.
Menjadi gajah atau semut dalam hidupmu sama sekali nggak berkaitan dengan kamu keturunan siapa, wanita atau pria, rambut lurus atau kriting, apalagi ditakdirkan oleh Tuhan dan tidak. Sama sekali bukan!
Menjadi gajah sepenuhnya soal mampukah kamu memikul beban seekor gajah, sama persis dengan menjadi semut sepenuhnya soal kemampuanmu untuk memikul beban seekor semut.
Semakin besar tantangan dan masalah yang kamu hadapi, maka kamu akan semakin menjadi besar. Semakin kecil tantangan dan masalah yang kamu hadapi, maka kamu akan semakin menjadi kecil.
Hasil akhirnya?
Tentu tidak akan pernah sama hidup sebagai seekor gajah yang perkasa, gagah, besar, dan mendonggakkan kepala menatap langit dibanding hidup sebagai seekor semut yang harus ngumpet, penakut, dan cemas segera mati terinjak-injak.
So now, kamu mau jadi gajah atau semut?
Pada dirimu, telah bersemayam gajah dan semut itu sekaligus. Ya, telah ada pada dirimu, bukan pada orang lain atau benda lainnya.
Hakikat nya...masalah yang besar diperuntukkan orang2 yang besar pula dengan penyelesaian yang besar dan cara berfikir yang besar dan luas.
Berhasil menyelesaikan masalah ukuran gajah medium sudah sangat great namun harus diingat didepan masih ada gajah jumbo atau big elephant menunggu kita dan siap menjadikan kita the big people.
So, You can do it Bree... B-)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar