Nevermind I’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you…
- Adele Song -
Benarkah ada orang
yang benar-benar bisa menggantikan posisi orang lain sebelumnya dengan sama
persis?
Nggak pernah ada.
Nggak pernah bisa.
Semua takkan pernah
sama, semua orang takkan pernah mampu menggantikan posisi orang lain dalam
kehidupan seseorang. Bahwa kemudian benar-benar ada seseorang yang menggantikan
posisi tersebut, maka orang itu akan berperan sebagaimana dirinya sendiri, dan kalaupun
mengambil-alih peran yang pernah diperankan seseorang yang telah tiada itu,
maka sungguh caranya berperan takkan pernah sempurna sama.
So…?
Hidup takkan pernah
berputar kembali ke masa lalu, kea rah yang telah tertempuh, karena waktu yang
membingkai kehidupan hanya mengerti cara melangkah ke depan, bukan mundur ke
belakang.
Itulah sebabnya siapa
pun yang membiarkan dirinya surut ke belakang, akan tergilas oleh laju
kehidupan. Bahkan mereka yang mendiamkan dirinya di satu titik layaknya
sebongkah batu, maka ia pun akan tenggelam digerus waktu.
Ya, ya, ya, whatever itu, whoever itu, semua harus terus bergerak ke depan.
Meski kadang itu terasa amat sesak, bahkan begitu musykil. Commencons par l’impossible, semua harus dimulai bahkan dari
ketakmungkinan.
Tentu saja, dalam
keadaan jatuh, betapa amat sulit untuk berdiri, apalagi melangkah maju. Kita
selalu saja membutuhkan orang lain untuk membantu kita bisa berdiri kembali,
kemudian melangkah maju.
Setaksama apa pun
orang yang hadir untuk membantu kita itu saat kita puruk, kita harus yakin
bahwa dialah orang yang menghantarkan senampan kehidupan ke dalam jiwa kita.
Tentu, dia punya nampan sendiri, kue sendiri, cita rasa sendiri, dan itu tidak
adil untuk dibanding-bandingkan dengan orang lain yang telah mencampakkan
nampannya dari kehidupan kita.
Semakin kita
menciptakan perbandingan antara keduanya, niscaya kita hanya akan kian
terjungkal ke ceruk perbedaan yang kian mengiris hati kita. Selain tidak fair, ternyata membanding-bandingkan begitu, juga sangat menyakiti
diri kita sendiri, dan akibatnya, kita takkan pernah kunjung mampu untuk
bangkit dan melangkah.
Hidup tidak untuk
diratapi, ditangisi, atau dicaci atas ketakadilannya pada diri kita. Sebengis
apa pun kita menangis dan menghujatnya, hidup akan terus melambai menjauh.
Bukankah keluhan macam
ini sama persis dengan betapa teganya kehidupan liar di Antartika sana
membiarkan seekor anak penguin diterkam sedemikian barbarnya oleh seekor anjing
laut?
Semua kita sedang
membangun dan menjelankan skenario hidup yang kita ciptakan. Saat kita menangis
dan mencaci hidup, semua itu hanya semata lantaran kita belum memahami
bagaimana sepatutnya kita menempatkan diri di hadapan skenario besar kehidupan
itu. Sejurus kemudian, saat akal sehat kita bangkit, kita pun mulai menyeka air
mata dan menggerakkan kaki untuk mengais-ngais serpihan waktu untuk kita
jadikan pijakan melangkah.
Kendati sungguh semua
takkan pernah sama seiring dengan perginya seseorang dari kehidupan kita, siapa
pun dia, berperan apa pun dia, seintim apa pun dia, pastikan bahwa dia
pergi untuk membangun skenario hidupnya sendiri, yang tak sama dengan
skenario hidup kita, yang untuk kemudian akan tampil sosok baru yang mengisi
skenario hidup kita.